Kamis

Alasan Fernando Torres Hengkang dari Liverpool


Keputusan Fernando Torres (26) hengkang dari Liverpool ke Chelsea bukan semata-mata karena uang. "El Nino" memilih "The Blues" karena ia yakin klub tersebut bisa mengakomodasi ambisinya merasakan gelar juara seperti Premier League dan Liga Champion yang tidak pernah dirasakannya selama berada di Anfield.
"Fernando selalu mendapatkan uang sejak dia muda. Dia memiliki keuangan yang cukup bagus ketika dia di Atletico Madrid dan keuangannya juga cukup bagus saat dia pindah ke Liverpool,"  kata ayah Torres, Jose Torres.
“Dia pindah karena alasan olahraga, bukan uang. Namun, ekonomi Chelsea lebih kuat dibandingkan tim lainnya," lanjutnya. 
Torres pemain yang bernama lengklap Fernando José Torres Sanz ini yang berpredikat sebagai pemain termahal di Inggris dengan nilai 50 juta poundsterling atau sekitar Rp 728 miliar sempat mendapatkan kecaman dari pendukung Liverpool. Pendukung melampiaskan kekecewaannya dengan membakar serangam bertuliskan Torres.
Jose mengaku mengerti dengan apa yang dirasakan para pendukung tersebut. Namun, menurutnya, sebagai pemain profesional, Torres ingin mencicipi gelar juara yang selama ini tidak diperolehnya di Anfield.  "Di sebuah klub, dia ingin bermain di Liga Champions dan memenangkan kompetisi. Oleh karena itulah dia bermain untuk Chelsea," tukas Jose.

Read More......

Javier Mascherano Tidak Kaget dengan Hijrahnya Fernando Torres


BARCELONA - Javier Mascherano tidak kaget dengan hijrahnya Fernando Torres mantan rekan timnya saat di Liverpool, hijrah ke Chealsea.

Jika banyak kalangan yang tidak menduga kepindahan Torres di penghujung bursa transfer jilid II, tidak demikian dengan Mascherano. Gelandang internasional Argentina sama sekali tak terkejut karena mengenang kepergiannya dari Anfield.

Di akhir musim lalu, Mascherano direkrut Barca dengan harga transfer senilai 22 juta poundsterling, setelah dirinya sudah merencanakan pindah pada musim panas 2009. Gelandang 26 tahun menilai, manajemen The Kop memang tidak pernah berniat mempertahankan pemainnya, namun justru mengutamakan kondisi finansial klub.

“Saya tidak terkejut dengan apa yang terjadi dengan Fernando,” cetus Mascherano, yang sempat mengutarakan keinginan bereuni dengan striker Spanyol di Camp Nou.

“Saat saya meninggalkan Liverpool, terlihat sepertinya saya membunuh seseorang. Menyedihkan karena orang yang melakukan sesuatu yang berarti bagi klub pergi melalui jalan belakang,” urainya.

Mascherano juga menyesalkan pemberitaan media massa, yang seakan-akan memposisikan pemain bersalah karena memutuskan meninggalkan klub.

“Menyedihkan karena media massa dan klub berusaha meyakinkan orang bahwa semua adalah kesalahan pemain. Namun kenyataannya, Liverpool tidak pernah menunjukkan niat mempertahankan kami di klub,” bebernya, seperti dilansir The Independent, Jumat (4/2/2011).

Torres sepakat menerima tawaran The Blues, setelah pihak The Reds bersedia menerima uang sebesar 50 juta poundsterling. Striker 26 tahun dijadwalkan melakoni debut bersama skuad Carlo Ancelotti pada bigmatch melawan mantan klubnya tersebut, Minggu (6/2/2011) malam.

Read More......

Bisnis Pornografi

Jepang selama ini identik dengan negara maju yang masih memegang budaya mereka dengan kuat. Namun di balik budaya dan tradisi yang kuat itu, industri pornografi ternyata juga tumbuh dengan subur pula. Bagi yang sering 'terkoneksi internet' barang kali nama" AV Idol" bukanlah nama yang asing lagi. Ya AV Idol merupakan singkatan dari (Adult Video Idol) merupakan sebutan buat para aktris atau model yang bekerja di bidang pornografi di Jepang. Sebutan ini mulai muncul di awal tahun 80-an dan kian hari kian berkembang dengan pesat. Bahkan saat ini ada lebih dari 25 studio yang mengkhususkan dalam produksi video porno. Itu belum termasuk industri media cetak yang juga tak kalah pesatnya. Ini menunjukkan bahwa industri ini bukanlah industri main-main atau industri underground. Mereka punya bisnis yang dikelola dengan baik secara profesional layaknya industri lain.

Pornografi Jepang juga punya karakteristik unik bila dibandingkan dengan pornografi barat pada umumnya. Misalnya saja, di Jepang, topik yang sering kali jadi ide dasar adalah hubungan seks dengan gadis-gadis yang masih menggunakan seragam sekolah. Dunia barat menganggap pornografi Jepang berpusat pada kekerasan dan hubungan seksual dengan anak di bawah umur, sesuatu yang di barat dianggap 'asing'.

Pornografi Jepang juga punya banyak wujud selain dalam bentuk video dan gambar. Industri komik porno atau computer games yang sarat dengan muatan pornografi juga cukup laris di negeri matahari terbit ini namun tentu saja industri ini tak sebesar industri video porno yang telah melahirkan banyak bintang, seperti Maria Ozawa misalnya. Cewek yang baru berusia 23 tahun ini sudah menekuni bisnis ini selama hampir empat tahun.

Sejak tahun 80-an ada banyak nama yang identik dengan label AV Idols ini. Misalnya saja Kate Asabuki, Hitomi Kobayashi atau Nao Saejima yang populer di tahun 80-an sementara nama-nama seperti Akira Fubuki, Ai Iijima, atau Aika Miura baru muncul di era 90-an. Di tahun 2000-an ini nama yang paling populer bisa jadi memang adalah Maria Ozawa atau yang juga dikenal dengan nama Miyabi ini.

Ratusan AV Idol yang pernah ada hingga saat ini rata-rata memiliki masa aktif sekitar satu tahun saja. Selama satu tahun itu rata-rata mereka menghasilkan sekitar lima sampai sepuluh video. Beberapa Idol memang sempat melegenda dan memiliki karir lebih dari satu tahun. Kaoru Kuroki bahkan sempat dianggap sebagai aktris porno yang berhasil mengangkat status AV Idol menjadi orang yang terhormat juga di mata masyarakat. Ia memilih menjadi AV Idol meski sebenarnya ia juga punya karir yang bagus di televisi.

Yang jelas, bisnis ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Konon, bisnis ini bernilai sekitar Rp 46 triliun per tahunnya. Tahun 1992 saja bisnis ini bisa menghasilkan 11 film dalam satu harinya dan menguasai sekitar 30% rental video di sana. Dua tahun berikutnya, data mencatat bahwa dalam satu tahun Jepang bisa memproduksi 14 ribu video porno sementara di Amerika Serikat dalam waktu yang sama hanya mampu memproduksi sekitar 2.500 video saja.

Read More......

Rabu

Perang Cyber Indonesia VS Malaysia

Hubungan antara Indonesia-Malaysia sejak dulu memang bisa dikatakan tidak harmoni, ini dikarenakan pihak Malaysia sering melakukan tindakan yang merugikan bangsa Indonesia yaitu mencuri kekayaan Indonesia, seperti mengambil kebudayaan milik Indonesia seperti Reog Ponorogo khas daerah Jawa Timur, Batik, angklung, lagu Rasa Sayange dan kebudayaan lainnya,dan juga secara sepihak mengakui perairan laut Ambalat, sampai pesepak bola Irfan Bachdim diklaim sebagai warga Malaysia. Bukan sampai disitu, pihak Indonesia yang bekerja di Malaysia pun sering mendapat kekerasan. Dan puncaknya adalah ketika pertandingan Piala AFF Indonesia-Malaysia yang dilakukan di stadion Bukit Jalil, Malaysia, pihak supporter Malaysia melakukan tindakan yang memalukan dan membuat kecurangan dengan menyoroti para pemain Indonesia dengan sinar laser. Hal ini pun memicu amarah bangsa Indonesia. Sehingga perang cyber pun dimulai, Malaysia pernah mencoba untuk menjatuhkan beberapa situs milik Indonesia akan tetapi masalah tersebut mudah diatasi oleh para hacker Indonesia. Serangan pun berbalik kepada pihak Malaysia, setelah situs milik Ketua Pengarah Kerja Raya (KPKR) Malaysia (www.jkr.gov.my) yang diubah tampilannya oleh hacker Indonesia dikembalikan ke asalnya, kini giliran situs milik pemerintah Sultan Perak dan YellowPages Malaysia "dikerjain" oleh hacker Indonesia. Situs Sultan Perak diubah isinya (deface) menjadi gambar merah putih dengan tulisan INDONESIA berhuruf besar. Di Bawahnya ada teks berjalan bertuliskan "jangan ganggu tanahku", dan diteruskan dengan teks Pancasila lengkap. Uniknya, sang penyerang yang menyebut dirinya Kupuss memasang fotonya sedang bergandengan dengan Dian Sastro. Foto itu diambil dari salah satu adegan film "Ada Apa Dengan Cinta", dimana wajah Nicolas Saputra diganti dengan wajahnya sendiri. Di bawah foto ada keterangan berbunyi, "COBA LIAT GANTENG GAK AKU SAMA DIAN SASTRO NIH". Sedangkan di atas foto, sang hacker menyampaikan pesan: THANK"S TO ALL OFF INDONESIAN HACKERS, GOD BLESS US, ALLAH HU AKBAR. Lalu ke dibagian bawahnya lagi, sang penyerang menuliskan LONGLIFE INDONESIA, DEFACED BY KUPUSS. Hacker juga mengucapkan terimakasih pada beberapa kelompok hacker dengan kata-kata, THANKS TO ALL CREW @ #MEDANHACKER #MALANGHACKERLINK #KREDITCARD #GRESIKCARDING #KARTUBEBEN #YOGYACARDINGX. Sedangkan situs kedua yang diserang adalah YellowPages Malaysia dengan alamat http://www.klpages.com/. Ketika situs ini dibuka, lagu Indonesia Raya akan berkumandang. Situs dengan latar belakang hitam ini dihiasi tulisan berwarna hijau dengan bunyi: In the name of Allah, the Most Merciful, the Most Kind ACHTUNG !!! BaD^BoY^but^NiCe was here...!!! Sang hacker yang menyebut diri bad boy but nice itu mengirim pesan pada Perdana Menteri Malaysia. Isinya kira-kira berupa tantangan perang, yakni: Message to the Perdana Menteri Dato' Seri Abdullah Hj. Ahmad Badawi : u want a WAR ? We'll give you a WAR !!! Ia juga meminta agar Malaysia keluar dari wilayah Indonesia segera. Itu diwujudkan dalam kalimat: Message to the Malaysian government : Retreat from Indonesian area A.S.A.P !!! Ganyang MALAYSIA !!! Di akhir pesan, sang hacker mengutip semboyan revolusioner yang dipopulerkan Che Guevara: Hasta La Victoria Siempre !!! Adapun perilaku merusak situs-situs Malaysia ini diduga merupakan imbas dari ketegangan antara Indonesia-Malaysia menyangkut status blok Ambalat yang diklaim kedua belah pihak. Hal serupa pernah juga dialami situs-situs Australia ketika negara kangguru itu dianggap ikut campur masalah Timor Timur dan celah Timor.

Read More......

Selasa

Facebook-Twitter Musuh Baru Mesir

image 133 Facebook Twitter Jadi Musuh Baru Mesir
Facebook dan Twitter kini telah menjadi musuh bagi rezim Mubarak. Hal itu bisa terlihat dari tindakan pihak Mesir yang telah memutus akses internet, hal ini dilakukan untuk menanggulangi para demonstrasi. Besarnya gelombang demonstrasi yang terjadi di Mesir tak lepas dari peran situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Pemutusan akses internet dilakukan sejak Kamis, 27 Januari 2011. Akan tetapi nampaknya tindakan preventif itu tidak berhasil, karena demonstrasi massal kembali pecah secara serentak di penjuru Mesir pada Jumat, 28 Januari 2011, untuk menuntut rezim Hosni Mubarak mundur. Bagi kalangan pengamat, langkah pemerintah Mesir dengan cara memutus akses internet menandakan bahwa lawan-lawan sosial media telah berperan penting dalam menciptakan pergolakan massal. Maka, bagi rezim Mubarak jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter harus diblokir, bahkan semua akses internet dilarang beredar. Menurut kolumnis Computerworld, Jaikumar VijayanRezim, Mubarak tidak ingin mengulang kejadian di Tunisia sekaligus ingin mengadopsi langkah-langkah China dan Iran dalam membendung gerakan populer yang dibantu oleh media-media sosial di internet.
Selama ini. para aktivis dan kubu oposisi bisa dengan mudah memobilisasi massa dan melakukan koordinasi gerakan unjuk rasa melalui akun di Facebook dan Twitter. Mereka juga bisa menjadi media alternatif dengan menayangkan video-video bentrokan yang segera tersebar ke seluruh dunia melalui laman YouTube dan blog.
Data dari laman pemantau media sosial, Social Bakers, menunjukkan bertambahnya jumlah pengguna Facebook di Mesir. Enam bulan lalu, jumlah pengguna jejaring sosial itu tidak sampai 3,2 juta. Namun, hingga pekan lalu, pengguna Facebook di Negeri Piramid ini berjumlah lebih dari lima juta orang. Sekitar 85 persen pengguna masuk dalam angkatan usia produktif, yaitu 18 hingga 44 tahun.
Berdasarkan data tersebut, tidak heran bila jejaring sosial seperti Facebook menjadi alat perjuangan para aktivis untuk berkoordinasi dan memobilisasi massa. Grup-grup di Facebook pun bermunculan. Walau menonjolkan tema-tema yang berbeda dari kesulitan ekonomi hingga kekerasan aparat – tujuan grup-grup itu sama, yaitu bersatu menggulingkan pemerintahan Mubarak melalui gerakan massa.
Harian The Guardian mencatat, salah satu grup di Facebook yang populer adalah “We are all Khaled Said.” Grup itu mengadopsi nama seorang pemuda di Kota Alexandria yang dipukul hingga mati oleh polisi tahun lalu.
Grup online itu membawa pesan solidaritas melawan aparat keamanan yang semena-mena atas kaum muda. Dengan cepat, grup itu diakses oleh ratusan ribu pengguna Facebook di Mesir.
Kaum oposisi tradisional pun akhirnya ikut pola kaum muda dalam menyampaikan pesan ke banyak orang melalui media sosial. Itulah yang dilakukan Mohamed El Baradei, salah seorang tokoh oposisi.
Peraih Nobel Perdamaian 2005 ini memanfaatkan Twitter untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya. “Dukung penuh seruan untuk demonstrasi damai melawan represi,” demikian kicau ElBaradei di Twitter, seperti yang dipantau majalah Newsweek.
Kedatangan ElBaradei ke Kairo untuk mendukung demonstrasi pada 28 Januari itu disebarluaskan melalui internet.
Perkembangan pesat jumlah pengguna media sosial di Mesir itulah yang membuat rezim Mubarak memutuskan untuk melakukan tindakan frontal, yaitu memutus semua akses internet.
Richard Stiennon, pengamat dari IT-Harvest, menilai bahwa upaya pemerintah Mesir itu menunjukkan bahwa stabilitas pemerintahan, pengambilan kebijakan, bahkan pemilihan umum bisa dipengaruhi oleh akses yang bebas dan terbuka atas informasi dan publik.
“Pemerintah punya kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam memblokir semua akses ke layanan-layanan tertentu. Masalahnya, sampai seberapa lama tindakan itu bisa dilakukan,” kata Stiennon seperti dikutip laman Computerworld.
Menurut dia, pihak berwenang harus memutus semua akses internet secara serentak di semua wilayah untuk mencegah massa berkoordinasi satu sama lain.
Pemblokiran itu sukses dilakukan oleh Iran ketika menghadapi gelombang demonstrasi massal pada 2009. Saat itu kubu oposisi sukses menghimpun massa melalui berbagai pesan di Twitter dan Facebook untuk menentang hasil pemilu, yang mereka anggap sarat kecurangan sehingga memenangkan kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
Namun, Iran saat itu bertindak sigap dengan memblokir semua akses internet untuk publik. Massa demonstran pun kesulitan berkoordinasi di berbagai kota dan akhirnya gerakan anti Ahmadinejad berhasil ditangkal.
China pun menerapkan kontrol yang ketat atas penggunaan internet. Bahkan, pengguna internet di China tidak bisa mengakses jejaring sosial yang populer seperti Facebook, Twitter, dan Youtube. Ini berkat upaya serius pemerintah China dalam mengendalikan teknologi informasi di negeri mereka dengan mengerahkan dana yang besar dan kampanye yang terus-menerus.
Namun, China dan Iran berbeda dengan Mesir. Kedua negara itu bisa melakukan kontrol internet yang ketat karena memiliki infrastruktur dan keuangan yang memadai. Sebaliknya, Mesir tengah mengalami krisis ekonomi. Harga-harga kebutuhan pokok naik, begitu pula tingkat pengangguran.
Memutus jaringan internet di hampir penjuru Mesir selama berhari-hari bisa turut memperburuk situasi ekonomi di negara itu. Di hampir semua negara, teknologi informasi seperti internet telah menjadi elemen penting untuk menggerakkan perekonomian.
“Cuma masalah waktu sebelum internet kembali berfungsi di Mesir,” kata Sherif Mansour, pengamat dari Freedom Watch, seperti dikutip Wired.com. “Pemerintah pun butuh internet untuk menggerakkan ekonomi, investasi, dan beroperasi,” lanjut Mansour.

Read More......

Anne Hathaway Sang Catwoman

Tahun 2011 memang bisa dibilang tahunnya Anne Hathawaw. Di tahun ini Anne dipercaya sebagai host di acara Academy Awards bersama rekannya James Franco.
Ditahun ini juga Anne berhasil memperebutkan peran yang prestisius sebagai Catwoman dalam sekuel film terbaru BATMAN, THE DARK KNIGHT RISES yang bersaing ketat dengan Keira Knightley dan Jessica Biel. Anne selama ini yang selalu mendapatkan peran yang aman sebagai gadis baik-baik dalam DEVIL WEARS PRADA  atau BRIDE WAR kini ditantang untuk memerankan karakter yang berbeda, dalam film ini.
Penasaran ingin melihat aksi meong nya Anne Hathaway ? tunggu sekuel dari BATMAN, THE DARK KNIGHT RISES yang dijadwalkan akan tayang bulan Juli 2012 nanti.

Read More......

Omar Syarif, "Mesir Menghadapi Masa Depan Tidak Pasti"

KAIRO, Aktor veteran Omar Sharif menghawatirkan masa depan negaranya Mesir akibat aksi para demonstran yang menuntut pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak, karena dia "tidak tahu apa yang mereka inginkan".
Aksi revolusi ini telah menjadi berita utama di seluruh dunia sejak minggu lalu, ketika ribuan warga di negara Firaun ini mulai mengambil bagian dalam unjuk rasa setiap harinya dalam upaya untuk memaksa Mubarak lengser.
Para demonstran meminta pertanggungjawaban pemimpin Mesir ini yang telah membawa bangsa ini ke dalam kemiskinan selama 30 tahun dalam masa kekuasaannya.
Bintang "Dokter Zhivago", yang tinggal di Kairo ini, merupakan salah seorang aktor Mesir yang paling menonjol, tetapi dia khawatir banyak warga yang bergabung dengan para demonstran tanpa memikirkan konsekuensinya. "Mereka ingin presidennya turun. Ini hal pertama. Setelah itu, mereka tidak tahu apa yang mereka inginkan," ujar Sharif (78).
"Saya secara pribadi tidak tahu apa yang akan mereka lakukan setelah itu. Siapa yang akan mereka bawa, siapa yang akan menggantikan, siapa yang akan bertanggung jawab di negeri ini?" tambahnya.

Read More......

Perjuangan Massa Untuk Revolusi Mesir


Ahmad Jayar, 28 tahun, warga asal Kairo, Mesir menunjukkan isi dompetnya yang tipis kepada orang-orang di sebelahnya yang tengah berkumpul di Tahrir Square, Kairo. Dari dompet penjaga toko pakaian di pasar Tonto, 120 kilometer dari Kairo, itu tampak beberapa lembar uang dengan jumlah cuma 50 EGP (pound Mesir) atau sekitar Rp 75 ribu.

Seperti yang dilansir oleh Tempo interaktif, Jayar menjelaskan, "Sebentar lagi uang ini habis, tapi saya tak takut," kata Jayar, Minggu malam lalu. "Solidaritas masyarakat terhadap gerakan ini tinggi. Walau uang saya habis, saya akan tetap tinggal di sini sampai Mubarak turun."

Jayar adalah salah satu dari ribuan orang yang datang dari berbagai penjuru kota ke pusat demonstrasi itu. Di Tahrir Square atau Alun-alun Merdeka yang terletak di depan Museum Nasional Mesir, yang menyimpan mumi Firaun, ada banyak orang muda seperti Jayar yang menginap berhari-hari hanya untuk menyampaikan satu tuntutan: rezim Husni Mubarak harus mundur.

Pemuda bercelana jins dan berjaket cokelat lengkap dengan syal ini sudah berada di alun-alun dengan keliling sekitar 2,5 kilometer itu sejak Selasa pekan lalu. Ia membawa seluruh tabungannya, 200 EGP (sekitar Rp 300 ribu), di dompetnya yang kumal itu.

Jika massa berdatangan pada siang dan kian menyemut pada petang hari, ia ikut berteriak dan mengacungkan tinju memprotes kekuasaan 31 tahun Presiden Mubarak yang otoriter dan kian sulitnya kehidupan di Mesir. Mereka menerjang jam malam yang diberlakukan pemerintah mulai pukul 4 sore hingga 7 pagi. "Saya tidak takut mati di sini, saya lebih takut mati kelaparan karena tak lagi mampu membeli roti," ucapnya.

Jika tengah malam datang dan demonstran menyurut, ia dan teman-temannya segera mencari sudut lapangan yang nyaman untuk berbaring. Ia tak peduli pada suhu 4-8 derajat Celcius yang menggigilkan tubuh itu. "Kami tidur seadanya, kadang di taman kota, depan pertokoan, atau halte-halte," tuturnya.

Bersama Jayar, Wail Syaban, dan Syauqi, bermalam di tempat bersejarah yang telah dua kali menjadi saksi pergantian rezim: revolusi pertama pada 1919 dan revolusi kedua yang menumbangkan kekuasaan monarki pada 1952. Wail Syaban, 35 tahun, datang dari Suez. Ia bekerja di sebuah perusahaan keramik. Sedangkan Syauqi, 39 tahun, seorang sopir.

Berbagai hal dilakukan kerumunan orang di lapangan yang berjarak sekitar 500 meter dari Sungai Nil itu. Ada yang mengobrol sampai pagi, ada yang menyalakan api unggun seadanya dengan membakar sampah yang dikumpulkan. Ada pula yang memilih merebahkan tubuhnya di atas rumput yang telah gundul karena terinjak saat demonstrasi dilancarkan.

Saat kami tengah asyik mengobrol dan berbagi rokok pada Senin dinihari itu, puluhan warga yang tinggal di sekeliling bundaran Tahrir berdatangan. Mereka membawa teh hangat dan kopi panas. Sambutan meriah pun seketika diberikan.

"Kadang ada yang membawa roti. Jika tak ada roti dan minuman, masih ada air yang mengalir dari keran-keran di seputar Tahrir yang tak pernah berhenti," ujar Jayar. "Itulah sumber tenaga kami."

Sumber tenaga yang lain, kata Syaban, "Adalah restu orang tua kami di kampung yang telah merelakan kami berunjuk rasa demi semua orang Mesir."

"Karena itu, kami tak akan beranjak dari sini kecuali setelah Mubarak turun," Syauqi menambahkan.

Percakapan itu pun berhenti saat azan subuh berkumandang. Tanpa dikomando, semua orang bangkit. Semua yang muslim serentak salat berjemaah.

Read More......